Kita kurang nyali untuk berkata “Ini pikiran kami”

Redaksi: Tidak banyak ilmuwan sosial di Indonesia yang mempertanyakan keabsahan ilmu yang dia pelajari. Ignas Kleden adalah salah satu seorang cendekiawan langka itu. Antara 1980-1990, ia gemar membahas indigenisasi ilmu sosial, demi menambah nilai manfaat ilmu sosial bagi masyarakat Indonesia itu sendiri. Masih relevankah pemikiran itu?

Siasat: Melihat kembali wacana indigenisasi ilmu sosial yang Pak Ignas tawarkan di awal 1990an, perdebatan itu akhirnya ujungnya seperti apa?

Ignas: Iya, (karena) tidak ada teman atau kolega yang memfollow up gagasan itu. Saya kira betul kita itu beda dengan Malaysia ya. Ada teman saya di Malaysia, dia sejarawan, saya lupa namanya, tapi saya ingat sekali, dia bilang, “Ignas, semenjak kami menulis sejarah disini, tidak ada lagi orang bule yang berani menulisnya”, itu kan semacam nasionalisme yang berlebih-lebihan, tapi itu ada semacam niat kayak begitu ya.

Di kita menurut saya tidak ada. Makanya kita sangat senang kalau kita bisa mengutip dari sebuah buku dari aliran liberal atau aliran Marxis untuk memperkuat argumen kita, tapi kita tidak berusaha membangun semacam argumen kita sendiri, padahal itu sudah dilakukan juga oleh intelektual kita, jauh sebelum kita lahir ya. Misalnya orang seperti Soepomo dalam bidang hukum, orang seperti Soedjatmoko di dalam historiografi, mereka sudah berusaha, tapi tidak ada gayung bersambut di antara orang-orang itu dengan generasi yang kemudian.

Siasat: Apakah itu perdebatan yang dirasa tidak praktis?

Ignas: Bukan, menurut saya itu karena di Indonesia itu, sejarah intelektual belum ada. Tidak ada intellectual history di dalam sejarah politik kita. Sejarah sosial ada. Tapi kita belum sadar bahwa intelektual itupun harus ada sejarahnya yang berjalan dari masa ke masa, dan disambung atau diputuskan dari satu masa ke masa, itu belum ada. Jadi misalnya pengolahan kembali gagasan-gagasan dari Soekarno atau Hatta mengenai taroh lah nasionalisme pada Soekarno, atau Koperasi pada Hatta, itu tidak dilakukan, karena mereka berpikir dengan cara yang cukup serius pada waktu itu ya. Jadi post colonial state itu menurut saya sudah dilakukan, atau post colonial theory itu menurut saya sudah dimulai dilakukan dengan baik oleh orang-orang kayak Soekarno. Tapi kita tidak melanjutkannya, dan kita baru menerima ketika orang di luar ngomong, Post Colonial Theory.

Siasat: Mengenai ide indiginesasi, kalau orang kemudian mengartikannya itu sebagai primordialisme dalam ilmu sosial, itu tanggapan Bapak gimana?

Ignas Kleden: Tanggapan saya, bukan primordialisme, tetapi usaha untuk melepaskan diri dari ketergantungan epistomologis kepada ilmu-ilmu barat ya. Kita menurut saya secara epistomologisnya tuh tergantung, kalau boleh lebih kasar, “terjajah” oleh itu.

Kita tidak berani untuk mengatakan, ini lho pikiran kami, dan berargumen dengan serius soal itu. Jadi saya rasa bahwa, bahkan di dalam kalangan NGO ya, NGO itu menurut saya, kesibukannya adalah menciptakan komitmen, tetapi tidak ada teorinya, begitu. Mendorong komitmen-komitmen, tetapi tidak didukung oleh teori, dan menurut saya, itu wajar ya. Mereka kan sebetulnya lembaga sosial yang melakukan berbagai kegiatan yang mendorong aktivisime di berbagai bidang yang mereka anggap penting, itu memang benar. Tapi kalau Anda tanya satu produksi pengetahuan, bagi saya susah. Karena persoalan bagi mereka itu adalah ada komitmen atau tidak. Mungkin ada teori apa tidak?

Siasat: Lalu, bagaimana dengan kritik dari ilmuwan barat terhadap ilmuwan Indonesia yang dianggap hanya spesialis Indonesia? Jadi Ilmuwan kita ini tidak pernah berani meneliti subyek di luar Indonesia.

Ignas: Itu ada benarnya menurut saya, dan itu kita paham juga kesulitannya ya, karena kalau misalnya harus menulis Amerika Latin, harus belajar bahasa Spanyol.

Siasat:  Masalahnya Pak menurut saya, audiens kita, yaitu sesama ilmuwan sosial, mereka masih  melihat kemahiran dalam mencerna teori itu masih sebagai tolak ukur kehebatan. Itu yang saya rasakan bahkan dengan sesama teman-teman saya. Jadi semakin banyak kita paham teori Barat, itu malah kita dianggap semakin jago, kayak gitu sederhananya.

Ignas: Iya, tapi pemahaman terhadap teori-teori tidak ditunjukkan dengan berpidato atau tentang teori Mas, tetapi di dalam penerapan teori itu, di dalam penelitian ya. Nah itu menurut saya kesalahpahaman kita, bahwa kita ngomong teori kalau kita menulis satu chapter mengenai teori saja. Menarik lah, tapi menurut saya, itu tidak terlalu bermanfaat untuk transformasi ilmu sosial. Orang harus menerapkan teori itu langsung di dalam praktek penelitian.

Siasat: Kalau Bapak melihat mundur ke era Orde Baru, sebenarnya ilmu sosial seperti apa yang dibutuhkan pada saat itu? Khususnya masyarakat sipilnya?

Ignas Kleden: Sebetulnya di kalangan LSM juga, menurut saya tidak menonjol satu pemikiran yang apa, yang jelas mengenai apa yang mereka inginkan. Mereka juga ngomong tentang misalnya ilmu sosial transformatif ya, tapi itu tidak dijalankan di dalam penelitian maupun dalam berteori. Itu hanya pertemuan dalam seminar, kongkow-kongkow, tapi itu tidak menjadi semacam theory building, apalagi teori yang diterapkan dalam beberapa penelitiannya, mereka tunjuk bahwa kami melakukan penelitian dengan pendekatan yang transformatif.

Jadi cita-cita itu memang ada, dan kami semua juga sangat, pada waktu itu, dengan semangat muda, pengen sekali ada ilmu sosial transformatif, tapi bagaimana itu dijalankan, dan bagaimana yang dimungkinkan, kita kita tidak terlalu tahu pada waktu itu.

Siasat: Nah, kalau masuk ke era transisi, tahun 98, 2000 dan seterusnya, itu banyak orang bilang, masyarakat sipil sebenarnya bingung mau berbuat apa, mau mengerjakan apa, atau teori-teori atau pemikiran apa yang mau digunakan. Bagaimana menurut Bapak?

Ignas Kleden: Saya kira, ada beberapa hal yang baru yang mereka lakukan di dalam kegiatan mereka ya. Jadi misalnya indiginesasi itu kita ngomong secara teori, tetapi di dalam praktek, mereka terjemahkannya ke dalam misalnya pembelaan terhadap hukum, ada, itu mereka lakukan, dan itu dilakukan dengan cukup serius. Saya benar-benar tahu dari dekat, karena adik saya yang bungsu, Emil, dia menjadi Sekjen AMAN tuh 6 tahun, dan mereka berjuang betul untuk mempertahankan. Adat dan hak-hak adat itu harus diperhatikan kembali ya, dan jangan digilas kembali oleh semacam instruksi-instruksi umum gitu ya. Nah, sekarang hati-hati dengan itu ya.

Siasat: Lantas, sebagai pamungkas Pak, kalau indiginesasi ilmu sosial ini diangkat lagi sebagai wacana, apakah masih relevan apa tidak?

Ignas: Saya kira indiginesasi sekarang harus kita lakukan dalam praktek. Kalau kita ngomong, tidak efektif.

Contohnya, jadi apa yang dilakukan oleh Sartono dalam historiografi itu harus dilakukan. Jadi Pak Sartono tidak terlalu banyak berteori tentang indiginesasi, tapi dia menuntut bahwa penulisan sejarah orang Indonesia kembali itu harus Indonesia-sentris, harus empiris, non ideologis, itu hal yang dia usulkan untuk dikerjakan, biarpun dia sendiri tidak membangun teori besar tentang indiginesasi histerografi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *